Nov 03

Adempiere, Idempiere atau OpenERP

Sebagai praktisi Open Source ERP, kami sering ditodong dengan pertanyaan ini. Bagaimana memilih open source ERP yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda ?

Di Indonesia setidaknya tercatat ada beberapa software open source ERP yang cukup populer. Awal mulanya berangkat dari kemunculan Compiere ERP yang mulai dipakai di sini sejak tahun 2002. Nama-nama seperti Openbravo, Adempiere dan (sekarang) Idempiere semuanya merupakan turunan dari Compiere ERP.

Pengembang awal Compiere dan OpenERP (mula-mula bernama Tiny ERP) mempunyai pendekatan yang berbeda dalam membangun software ERP. OpenERP dirancang sebagai ERP yang ringan, sederhana dan mudah dipakai (makanya dulu namanya Tiny ERP). Jika Anda dahulu adalah pengguna aplikasi akuntansi semacam Accurate atau Zahir, maka pindah ke OpenERP bukanlah persoalan besar.

Jika Anda mengharapkan yang lebih kompleks dari OpenERP, maka Anda perlu mencoba menginstall beberapa modul untuk menemukan fitur yang paling pas buat kebutuhan Anda. Misalnya jika Anda perusahaan distributor, setidaknya Anda memerlukan 5 modul tambahan. Tentunya dengan bantuan konsultan berpengalaman, Anda bisa melalui proses ini dengan lebih cepat.

OpenERP dikembangkan dengan bahasa pemrograman Python yang kurang populer di Indonesia. Oleh sebab itu apabila Anda ingin mengembangkan OpenERP lebih jauh, sebaiknya Anda memiliki professional support sebab mencari programmer yang menguasai Python sangatlah sulit.

Dan sama seperti Compiere, OpenERP juga mengalami nasib di-fork oleh komunitas dengan nama Tryton. Untuk mengetahui perbedaan keduanya dapat dibaca disini.

Kebalikan dari OpenERP, Adempiere dan (sekarang) Idempiere disiapkan dalam satu bundel besar berisi seluruh fitur yang ada dan dirancang untuk mendukung bisnis skala menengah ke atas. Anda dapat mengabaikan fitur-fitur yang tidak ingin Anda pakai dengan mengatur akses pada menu-menunya. Dari sisi skalabilitas, konfigurasi standard Adempiere sanggup mendukung 100 concurrent user. Untuk skala yang lebih besar, Anda bisa menerapkan load balancer dan database cluster.

Adempiere adalah aplikasi berbasiskan Java (J2EE). Ia menggunakan platform ZK (ajax-based) untuk web UI-nya. Pada tahun 2010, Low Hengsin, salah satu top kontributor, melakukan eksperimen mengubah arsitektur Adempiere ke dalam OSGI supaya Adempiere menjadi lebih modular.  OSGI sendiri adalah teknologi atau platform service dan module system untuk Java. Eksperimen ini akhirnya berujung kepada forking baru bernama Idempiere setelah beberapa top kontributor lainnya turut bergabung ke dalamnya.

Secara teknis, apa yang ada di dalam Adempiere diwariskan oleh Idempiere. Pengembangan lanjutan di Idempiere dapat dibuat seperti plug-in. Anda nanti bisa mengaktifkan atau menon-aktifkan plug-in tersebut kapan saja. Namun demikian teknologi ini masih tergolong baru dan saya pikir kita semua masih sama-sama harus sabar menunggu proses pematangan Idempiere.

Goodwill sendiri adalah pendukung dan pengembang Adempiere dan (sekarang) Idempiere. Jadi mungkin Jawaban kami di atas agak bias. Tapi mudah-mudahan penjelasan ini bisa memberikan Anda lebih banyak gambaran. Jika Anda harus memutuskan saat ini, Adempiere masih merupakan pilihan yang bijak. Seperti biasa, kami selalu merekomendasikan versi yang paling stabil (business-wise) – bukan versi yang paling terakhir atau yang paling canggih (technology-wise). Produk utama kami, yakni paket distro Adempiere Indonesia a.k.a Goodwill ERP adalah berbasiskan Adempiere v.3.6.1 dimana kelak Anda dengan mudah dapat bermigrasi ke Idempiere.

Oct 23

Adempiere Indonesia

Tidak terasa Goodwill Consulting akan segera berusia 9 tahun sebentar lagi. Sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa bagi kami dalam memperkenalkan dan mendidik pasar terhadap sesuatu yang baru yang bernama “open source ERP”. Kami mungkin bukan orang pertama yang melakukan hal ini tetapi pada masa-masa awal kami merintis, pasar ternyata belum sepenuhnya siap untuk menerima ERP yang seperti ini. Dalam bayangan mereka, ERP itu adalah barang mewah yang identik dengan nama-nama besar seperti SAP dan Oracle. Sementara yang namanya “open source ERP” masih terasa asing di telinga.

Pada waktu itu kami sangat terkesan dengan software ERP bernama Compiere. Disain databasenya sangat bagus, arsitektur juga sudah sesuai standar MVC (model-view-controller), penerapan standard coding sangat konsisten, dan secara umum memiliki fungsional yang cukup lengkap dibandingkan software-software “open source erp” lainnya pada waktu itu. Compiere bahkan mempunyai fitur-fitur yang hanya bisa dijumpai di ERP kelas atas seperti multi dimensional accounting dan workflow processor.

Dan yang membuat kami terkagum-kagum, software ini dibuat oleh satu orang saja, namanya Jorg Janke, pria kelahiran Jerman yang kini menetap di Amerika Serikat. Jorg, dibantu istrinya Kathy dan dengan pengalaman membangun aplikasi ERP untuk Oracle dan SAP di Jerman, berhasil menciptakan suatu produk yang menurut kami, memiliki segalanya untuk menjadi sesuatu yang besar.

Compiere, menurut pandangan kami, bukanlah sekedar software ERP, tetapi lebih merupakan software framework dimana kita bisa membangun atau mengembangkan solusi-solusi vertikal di atasnya. Namun harus diakui Compiere bukannya tanpa kelemahan. Ia tidak semodular yang kami pikir. Pada beberapa tempat, Anda tidak bisa melakukan modifikasi tanpa menyentuh core class-nya (M* dan Doc*). Tetapi kelemahan Compiere terbesar adalah rendahnya kualitas komunikasi antara sang Founder dengan komunitas open source yang tergabung di dalamnya.

Pada waktu itu kami – komunitas – memandang Jorg Janke bagaikan seorang Dewa. Kami pikir dia adalah Sang Jenius. Dia yang telah menciptakan maha karya yang manfaatnya dirasakan dan dikagumi oleh banyak orang. Komunitas sangat salut dan menghormatinya. Namun sama seperti Dewa, dia juga sangat-sangat jarang berbicara dengan komunitas. Ini lama-lama menimbulkan ketidak-nyamanan dan kesalah-pahaman buat komunitas Compiere, terutama soal mekanisme kontribusi dari komunitas dan/atau partner. Dan klimaksnya adalah ketika Compiere mendapat suntikan investasi dari angel investor.

Setiap investor pasti menghendaki ROI, betul kan ? dan itu artinya Compiere harus berubah menjadi mesin uang. Model open source pun semakin dijauhi, source code tidak pernah lagi diupdate untuk publik, hingga akhirnya suasana memanas dan berujung kepada forking yang dilakukan oleh teman-teman komunitas. Forking ini kemudian dinamakan Adempiere, dengan motornya adalah Red1 dari Malaysia, Carlos Ruiz dari Colombia, Victor Perez dari Mexico dan sahabat kami Trifon dari Bulgaria. (Red. Penulis sendiri adalah orang keenam yang bergabung ke dalam tim committer proyek ini, referensi http://hg.code.sf.net/p/adempiere/code/file/26a028a976e2/COMMITTERS)

Popularitas Adempiere secara perlahan tapi pasti mulai menyaingi induknya Compiere. Komunitas bekerja sangat keras untuk menghasilkan suatu aplikasi ERP yang jauh lebih baik dari orisinalnya. Prestasi signifikan yang dicapai oleh komunitas adalah pengembangan web user interface, dukungan untuk open source database Postgresql, dan ekstension manufacturing. Berkat kegigihan komunitas, sekarang aplikasi Adempiere telah menjadi salah satu aplikasi open source ERP yang paling populer di dunia.

Di Indonesia sendiri, setelah beberapa implementasi dengan Compiere, kami pun beralih ke Adempiere dengan menggunakan database yang juga open source yakni Postgresql. Implementasi pertama kami adalah di salah satu waralaba lokal terkenal, setelah itu disusul dengan implementasi di beberapa perusahaan distributor dan manufacturing. Pada tahun 2010, kami juga ditunjuk oleh sebuah grup perkebunan kelapa sawit untuk implementasi Adempiere di perkebunan mereka. Walaupun pada waktu itu kami sama sekali tidak berpengalaman dengan industri perkebunan, berkat kerjasama yang sangat baik dengan tim key-user, maka kami berhasil go-live dalam waktu 6 bulan saja. Kami juga sangat takjub, ternyata web UI Adempiere cukup ringan untuk dipakai dalam koneksi VSAT yang hanya 128 Kbps saja.  Sekarang seluruh sebelas kebun yang ada sudah memakai Adempiere secara online.

Jadi berdasarkan pengalaman sembilan tahun kami ini, Adempiere terbukti memiliki fleksibilitas yang sangat baik sehingga dapat diterapkan di berbagai jenis industri. Skalabilitasnya juga sangat baik, jika perlu Anda pun bisa menerapkan load balancing. Sebagai implementor, kami sangat terbantu dengan lisensi open source ini sehingga kami bahkan dapat melakukan pengembangan-pengembangan dan perbaikan-perbaikan yang sekiranya itu tidak mungkin dilakukan jika apa yang kami gunakan adalah sebuah software propietary tanpa akses ke source codenya.

Pengalaman ini kami sarikan ke dalam satu paket distro Adempiere yang kami namakan “Goodwill ERP” ™. Paket distro ini khusus dikembangkan dan disetup dengan tujuan supaya bisa langsung dipakai oleh badan-badan usaha di Indonesia. Dalam implementasi Adempiere, Anda tentunya tidak mau bergelut dengan masalah “setup sana, setup ini” dan “tidak bisa ini, tidak bisa itu”. Kami membuat implementasi Anda menjadi jauh lebih mudah dan menyenangkan karena apa yang belum tersedia dalam standar Adempiere, sudah kami siapkan terlebih dahulu atas dasar pengalaman kami. Harapan kami semoga “Goodwill ERP” ini bisa menjadi pilihan utama sebagai paket distro Adempiere Indonesia.

Goodwill Consulting adalah bagian dari komunitas pengembang dan pendukung Adempiere. Jika Anda membutuhkan bantuan profesional untuk implementasi Adempiere, silahkan menghubungi kami.